Rabu, 07 November 2012

Sebuah Cerpen: Ikang Roa


IKANG ROA TAHUNA
Oleh Iswan Sual

Nyaris semalam suntuk aku dan teman-temanku menentang malam bergulat  dengan tugas yang tak terbilang dan harus diselesaikan itu. Hotel Nasional Tahuna nan sederhana menjadi saksi kami berenam tahang mata hingga fajar menyingsing. Jolly yang paling tahan. Matanya begitu kebal dengan sinar layar komputer yang terkadang bikin pusing. Dan dia adalah tumpuan harapan kami. Mau saja dia mengerjakan tanggungjawab kami meski tak sepeserpun upah diterimannya dari kantong kami. Luar biasa kesetiakawanannya. Padahal, sama-sama kami digaji sebesar 4 jutaan rupiah. Jolly itu Superman. Atau mungkin Incredible Man. Sedangkan kami Sick Man. Atau mungkin Lazy Man. Atau barangkali, Impotent man. Ah! Pokoknya kami itu payah! Dalam bahasa Minahasa tua: la ak!
Satu per satu kami tumbang di atas dua ranjang. Tentu saja double bed  tak cukup memikul setengah lusin orang dengan berat di atas rata-rata orang di negara kami yang sering dianugerahi gelar-gelar negatif oleh organisasi dunia. Sarang terorislah, terkorup, termiskin dan terbodoh. Walaupun ada benarnya, tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya memberi gelar-gelar itu pada kami. Sialan orang-orang bule itu. Seolah mereka tak pernah mengalami masa kelam. Lupa mereka pada sejarah. Sok suci. Seakan tak pernah berbuat dosa. Atau, lupakah mereka bahwa kekayaan yang mereka nikmati sekarang adalah hasil curian kakek-kakek mereka ratusan tahun lalu. Mereka datang dengan bedil dan meriam lalu menjarah tanah kami yang tentram dan kaya.
***
Mata masih berat untuk dibuka. Namun, demi memberi ruang kepada teman-teman lain aku terpaksa bangkit dari ranjang bersamaan dengan mentari menjalar di sela-sela jendela kaca yang ditutupi tirai berwarna putih dengan motif berlubang-lubang. Seketika itu pula aku merogoh kocek dimana ponsel bermerk Samsung-ku bersarang. Kubuka inbox. Namun tak ada pesan singkat ataupun panggilan tak terjawab. Syukurlah. Berarti aku dapat leluasa menikmati pagi di dekat sendang kecil sambil mengamati ikan-ikan multi warna yang melompat-lompat menyaingi semburan air mancur yang tak terlalu tinggi. Gemericik air menggelar teduh dalam jiwa. Belum lagi, bila hujan rintik mengiring. Tentu suasana akan kian sempurna. Tapi, aku tak mau memerintah Tuhan mengabulkan doa yang egois itu.
Jalanan mulai ramai. Sepeda motor dan gerobak yang didorong manusia tampak menjadi mayoritas. Semua menuju ke pusat kota. Bunyi terompet yang dihasilkan dengan cara meremas benda luwes mirip buah zakar menarik perhatianku. Dan itu pemandangan yang memberi pelajaran yang berharga tentang bagaimana orang-orang yang bekerja keras mencari sesuap nasi. Kerja dari subuh hingga malam datang berkunjung. Pejabat dan orang-orang terhormat di kantor pemerintahan adalah kebalikannya. Datang terlambat pulang lebih cepat. Hasil kerja nihil. Sia-sialah kami membayar pajak. Apalagi, dari orang-orang yang bangun subuh dan pulang malam demi mengais sedikit rezeki di pasar itu. Cobaan hidup bertambah berat kalah pemerintah daerah selalu mengeluarkan kebijakan relokasi dan yang tak lain adalah sinonim dari alienasi. Alias penyingkiran dari tengah-tengah orang berada.
Getir mulai menguasai hatiku. Sehingga demi mencegah titik-titik air mata membasahi lantai hotel yang belum dipel aku putuskan melangkah masuk kamar lagi. Tanpa tujuan yang jelas.
“Alo, pigi smokol jo ngana. Kong ambe kwa akang torang. Biar cuma pisang,” kata susan kala pintu kamar bernomor 101 itu mengangkang. Dahiku mengernyit. Enggan mengabulkan permintaan mereka. Namun, raut wajah Susan dan lainnya tampak mendesak. Kututup pintu lagi lalu menuju ke ruangan di mana sarapan digelar. Langkah-langkah kubuat pasti sehingga terlihat seperti  aksi orang-orang berduit. Sudah ada Supervisorku di situ. Mimik wajahnya berganti ketika aku muncul dihadapannya.
“Napa dorang Santi suru kita mo ambe akang for dorang. Mar ta malu ini. Napa tu Ko’ so haga-haga miring pa kita,” uraiku sembari menarik kursi dan menaruh sepasang sikut di atas meja bundar berbalut kain putih agak tua. Bunga hidup diletakkan di tengah-tengahnya. Konsep hotel yang terbilang ramah lingkungan. Tapi seperti hotel lain yang dipenuhi dengan bunga palsu laiknya politisi di negeri kita.
Supervisorku yang bernama Modi itu menawarkan agar segera aku menikmati hidangan. Seiring itu makannya dipercepat. Ini membuatku sedikit galau dan kaku. Kuambil piring dengan nasi dan abon ikan laut seadanya. Mulai makan dengan gaya yang sengaja dibuat pongah. Resepsionis yang aku belakangi terdengar gaduh berbasa-basi dengan seorang tamu hotel. Sesekali seorang perempuan di hadapanku mencuri-curi pandang padaku. Barangkali, dia tertarik dengan gaya rambutku yang aneh. Kepala sudah musim gugur tapi rambut dililit segala. Lebih mirip buruh bagasi daripada orang-orang di negeri sakura. Kesan yang hendak dicipta ditafsirkan secara berbeda. Alangkah kampungannya aku. Tapi, apa peduliku!
“Lebe dulu ne. kalu ngana malu lebe bae suda jo ba ambe,” ungkap Modi saat mau pergi. Dia menghilang di ujung lorong dengan kunyahan makanan dari sendok terakhir yang belum ditelan. Sang pemilik hotel tengah asyik membaca koran. Tapi, aku tahu dia sembunyi-sembuyi memperhatikan. Aku bertingkah wajar. Pongah bak Julius Cesar yang bergaya di depan senator-senatornya. Ketika sepiring nasi habis, kuberanikan diri lagi menuju meja di mana makanan dan minum terhampar. Kupilih secangkir teh saja. Begitu ku duduk, dua orang berkulit terang dan bermata sipit muncul. Mereka bicara dengan bahasa yang sukar untuk kekenali. Baru lima menit kemudian berani kusimpulkan bahwa mereka dari Cina. Kedua lelaki itu terus bertukar kata dan kalimat. Aku dengan serius menyimak. Tak satupun kata ku mengerti.
Teh pun habis dan kulangkahkan kaki kembali ke kamar. Dengan lembut kututup pintunya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu. Semua dalam kamar saling berpandangan. Keenam-enamnya ada. Lalu siapa yang mengetuk? Dengan bisik-bisik dibantu gerak pantomim Modi menyuruh Bea dan Jein masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi. Sedangkan aku langsung mengumpet di belakang daun pintu.
“Selamat pagi pak! Ada  berapa orang yang nginap, pak?” kata suara seorang wanita.
“Oh…kami hanya bertiga.”
Aku menahan gelak begitu pandanganku tertuju ke Susan dan Jolly. Aku baru tahu pasti ternyata Modi hanya menyewah kamar untuk satu orang. Begitu dia melaporkan bahwa kami ada bertiga padahal ada berenam, dia dipanggil ke resepsionis. Lima menit kemudian dia muncul dan memberitahukan bahwa kami mesti menghimpun rupiah. Setelah dihitung-hitung bayarannya setimpal dengan untuk bayaran tiga kamar double bed. Sialan! Kalau tahu begini jadinya, mendingan kami memesan tiga kamar dan tak perlu tidur berdempetan seperti ikang roa yang dijepit rapat. Lalu dipanggang. Dan kami adalah ikang roa hidup khas Tahuna.


Tahuna, Kamis 8 November 2012. Selesai 11.09.

Sebuah Cerpen: Desi


Desi, Aku Sungguh Menyesal
Oleh Iswan Sual

Hingga kini aku masih merasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul ketika aku sedang banyak masalah. Inilah mungkin yang disebut hukum karma. Yang dulu itu tak ku percaya. Aku tak pernah percaya dengan hukum tabur tuai yang pernah disabdakan oleh seorang bujang yang terus melajang hingga digantung  hingga mati oleh saudara-saudaranya sendiri- orang Yahudi.
Aku masih teringat gadis yang bernama Desi. Gadis yang begitu lugu. Malu-malu. Sedikit misterius namun ternyata bercita-cita mencintaiku dengan serius. Aku yang tahu dengan perasaannya tak sedikit pun peduli. Tapi tak sedikit pun aku menampakkan ketidaksukaanku padanya. Aku senang gadis-gadis tergila-gila padaku. Kubiarkan mereka mengejar. Aku membuat segalanya menggantung. Hingga suatu saat aku sendiri yang kena batunya.

***
Di tahun 2008 aku mendapat beasiswa 3 bulan untuk belajar kebudayaan dan teknologi serta hal-hal lain di Australia. Sebelum berangkat aku sempat bertemu dengan seorang gadis berdarah China bernama Meisyi. Semula aku membuatnya menggantung. Lama-lama aku yang menggantung. Barangkali, karena aku tak bisa menampik rayuan kulit putih dan tubuhnya yang seksi. Suaranya yang mengundang itu sulit kulupakan. Akhirnya kunekatkan diri. Aku mengajaknya bertemu beberapa jam sebelum aku berangkat ke Australia. Awalnya, aku bermaksud menyampaikan isi hatiku setelah aku pulang dari negeri kangguru itu. Tapi Meisyi tak bisa tersiksa oleh karena penasaran. Dia merengek-rengek supaya aku merubah keputusan sepihak yang telah aku ambil.
“Jangan begitulah, Kamang. Jangan buat aku tersiksa menunggu sesuatu yang tak jelas.”
Melalui telpon dia terus membujukku. Dia memberi tanda bahwa dia sebenarnya sudah tahu. Namun, dia tak ingin aku menahan perasaan. Seolah dia pun siap mengiyakan apa yang belum aku ungkapkan.
“Baiklah. Mari kita bertemu dua jam lagi.”
Dia berulang kali mengungkapkan bahwa dia tidak percaya dengan kepergianku ke Australia. Dia tahu itu hanya akal-akalanku saja agar suasana serupa dengan film-film remaja Indonesia yang romantis kampungan itu. Dia mengejekku karena menggunakan cara-cara yang kuno di jaman yang sudah demikian maju. Aku tertantang dengan semua ocehannya.
“Terserah kamu. Yang penting aku sudah berusaha jujur padamu.”
Agak sedikit kesal sebenarnya. Belum tentu kami akan menjadi sepasang kekasih. Tapi, hubungan yang tak pasti ini telah dimulai oleh ketidakpercayaan darinya.
Dengan  sepeda motor aku melaju ke kota Manado. Tukang ojeknya beberapa kali aku peringatkan supaya menambah kecepatan. Dia bilang motor sudah melaju pada batas kecepatan maksimal. Ini gila! Demi bertemu dengan seorang gadis aku memaksa tukang ojek untuk secara tak langsung membunuh kami berdua di perjalanan. Benar-benar sesuai dengan teori-teori psikoanalisanya Sigmund Freud. Seks menjadi alasan orang untuk sukses. Seks menjadi alasan orang untuk kaya. Seks menjadi alasan orang untuk menjadi orang terhormat.
Perjalanan ditempuh tak sampai satu jam. Dengan langkah cepat aku turun dari ojek. Kuminta tukang ojek menunggu. Dari jauh kulihat Meisy dengan seragam putih hitamnya. Seperti pegawai koperasi. Tapi seragam itu begitu serasi dengan tubuhnya yang putih. Setelah setahun lebih kami tak bertemu, dia menjadi lebih Tionghoa. Aku merasa jadi tak pantas menjadi kekasihnya. Kulitku yang gelap, jika disanding dengannya pasti anak kami akan menjadi kopi susu.
“Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Kamang? Kalau kamu memang ingin membuat aku penasaran, kamu berhasil. Aku kalah. Kamu yang menang.”
Kupandangi terus wajahnya yang menawarkan sejuta keindahan. Tubuh rampingan yang molek serasa melarangku terbang ke negeri kangguru. Gadis-gadis putih di sana taklah sebanding dengan gadis yang ada di depan mata.
“Kamang, ayo katakan. Atau, haruskah kita mencari tempat lain agar semakin romantis?” kata Meysi dengan sedikit mengejek.
Aku menarik tangannya dan kami menuju ke tempat yang agak sunyi. Tepat di depan tokoh yang belum dibuka. Yang kuingat toko itu berwarna merah. Ada tulisan berbagai jenis merek ponsel. Meysi tidak sedikitpun merasa risih aku membawanya kesitu. Malahan, dia menatapku dengan pandangan menantang. Tak kusangkah gadis yang beberapa tahun lalu masih menggunakan seragam SMP ini sudah siap-siap ikut perpeloncoan sebagai mahasiswa baru. Sedari masih di kampung dia tak pernah terhindarkan oleh tatapan mataku jika melirik. Selalu saja dia menjadi tujuan dua mata keranjangku.
“Apa sih yang ingin kamu bilang, kamang?”
“Aku tak mau berbasa-basi sekarang. Aku suka kamu. Aku tak peduli kalau kamu mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku aku puas kalau sudah bisa mengatakan isi hatiku yang telah lama dipendam.”
Dengan gerakan tak terduga kini aku sudah ada dalam dekapannya. Beberapa kali bibirnya yang selalu basah itu mendarat tepat di wajahku yang berkeringat karena matahari mulai garang memanggang. Aku mendapat tiga kali kecupan berturut. Satu di dahi. Satu di pipi dan satu lagi dibibir.
“Sebenarnya kamu mau kemana?”
“Aku akan ke negeri yang dibangun oleh orang narapidana yang dibuang. Aku akan ke Australia. Kutunggu aku kembali. Segera setelah aku tiba di Manado, aku akan langsung menemuimu.”
Meysi terdiam. Dia kini percaya. Dia mulai merasa kehilangan. Sesuatu yang baru didapatnya kini harus dipisahkan oleh samudra yang luas. Kini lamunannya melampung ke negeri kangguru. Kepalanya mulai menghitung lamanya tiga bulan itu. Padahal bagi orang yang dimabuk cinta. Satu hari itu sama dengan satu tahun.
“Aku harus pergi sekarang. Kalau tidak, nanti ketinggalan pesawat.”
Meysi kelihatan lunglai. Tak sepatah kata meluncur dari mulutnya. Aku melompat ke punggung sepeda motor. Dan memberi isyarat agar dengan kecepatan penuh menuju ke bandara. Meysi tampak belum siap dengan kepergianku. Dia memikirkan tindakan terakhirku yang menghindari ketika ia akan sekali lagi mendekapku. Aku tak lagi berpaling padanya. Tapi aku tahu dia terus memandangi punggungku sampai menghilang di tikungan.

***
Tiga bulan kemudian, sebelum pulang ke Manado aku dan rekan-rekan peserta penerima beasiswa dari daerah lain harus tinggal seminggu di Jakarta. Program yang menghabiskan uang negara  yang banyak itu harus dievaluasi. Aku maunya itu ditiadakan saja. Berbargai alasan kubuat sendiri untuk membenarkan bahwa argumentasiku bisa dibenarkan. Jadinya, selama seminggu itu aku tak fokus sehingga aku tak sanggup menyusun laporanku. Supervisor memberikan teguran pedas. Aku tak menunjukkan sedikitpun peduli. Sudah berani karena telah kembali dari menikmati semua kegiatan  dengan gratis yang fasilitasnya mungkin nanti akan dirasakan oleh negara Indonesia seratus tahun lagi. Setelah tiga bulan ponselku tak pernah aktif, kuputuskan untuk mengeledah travel bagku untuk menemukan benda mungil itu. Sony ericson mereknya. Kuisi listrik sebentar. Lalu aku mengirimkan sms ke nomornya Meysi. Tak ada balasan. Laporan smsnya gagal. Kucoba telpon. Tapi tak ada sahutan. Hanya suara mailbox yang beberapa kali mengingatkan bahwa nomor itu tak lagi aktif. Bagaimana bisa?
Aku mengirim sms ke nomor lain. Nomor temanku yang bernama Fredi. Dibalas. Dia bahkan memberikan nomor barunya Meysi. Malamnya, aku mengirimkan Meysi sms. Dia menelponku. Tak puas dengan itu, kami juga saling menelpon. Hari-hari selanjutnya juga begitu.
Tiga hari sebelum kepulanganku ke Manado, tiba-tiba Meysi mengirimkan sms aneh. “Mang, jangan kirimi aku sms ya. Jangan juga telpon aku. Aku saja yang sms atau telpon kamu. Janji ya. Aku cinta kamu.” Karena tak ingin mengecewakan sang kekasih, aku melakukan seperti yang dia minta.

***
Aku tiba di bandara Sam Ratulangi sore. Kira-kira pukul empat. Aku langsung ke Tomohon menaruh barang-barang. Semenjak pagi tak ada sms lagi yang Meysi kirim untukku. Ingin sekali aku memberitahu kepulanganku. Tapi aku tak boleh mengirimnya sms ataupun menelponnya.
“Sms tak boleh. Telpon juga tak boleh. Ah, berarti miskol boleh. Aku miskol ah.”
Mungkin Meysi akan marah juga dengan tindakanku ini. Namun, tentu kerinduannya bertemu pasti lebih besar dari marahnya bila aku nekat miskol. Lagipula aku tak melakukan serong. Justru ini adalah bukti bahwa aku sayang sama dia. Tiba-tiba ponselku berteriak. Volume nada deringya diatur maksimal.
“Jangan lagi ganggu Meysi. Dia sudah akan menikah. Aku Lee Kwan, pacarnya.”
Pasti ini lelucon. Dia tentu akan membuat kejutan sebagai counter kejutanku. Dasar! Ternyata Meysi juga orangnya suka menghidupkan suasana. Dia memang suka memberi tantangan. Ku ketik.
“Oh begitu. Aku teman sekampungnya. Aku hanya akan bicara sebentar berkenaan dengan program organisasi pelajar kami.”
Harapanku kata-kataku itu akan membuat permainan akan semakin mengasyikan. Kalau dia hendak bercanda, baiklah. Aku juga bisa bercanda.
“Kamu Kamang kan? Aku sudah tahu siapa kamu. Meysi sudah menceritakannya. Kamu tak usah lagi menelpon dia. Kami akan segera menikah bulan depan. Tolong, pahami dan maklumi.”
Mataku tiba-tiba berhenti berfungsi. Aku hanya bisa melihat satu warna. Gelap. Tubuhku memberat. Nafasku tersengal-sengal. Seperti mendaki puncak gunung Kalabat. Yang ku baca barusan bukan lagi untuk kepentingan kejutan. Itu adalah keterusterangan yang kejam. Itulah merupakan penyingkapan penghianatan. Sesuatu yang dalam menghujam dan merobek hati tanpa ampun. Pukulan telak yang membuatku tak sanggup lagi bangkit.

***
“Halo Desi. Masih ingat aku? Tak tahu mengapa aku jadi kangen sama kamu.”
Sepenggal sms telah melesat cepat masuk ke inbox ponsel seorang gadis lugu dan malu-malu.
“Hei…halo kakakku yang ganteng. Sudah pulang ya? Tumben, mau mengirimi aku sms.”
Rasa dendam kepada gadis bermata sipit itu tak tertahankan. Rasanya ingin menangis. Namun, ihktiar itu kubuang jauh-jauh agar tak memperalukan bangsaku. Kaum lelaki.
“Datanglah ke tempatku. Boleh? Aku berbincang sebentar.”
Aku sangat yakin gadis lugu itu tak akan menolak tawaran dari cowok idamannya. Mereka adalah tipe gadis yang mau mengorbankan apa saja demi sang pujaan hati.
“Apa? Masa aku yang kesana? Kakak dong yang kesini.”
Kalimat itu hanyalah basa-basi. Kalimat itu sebenarnya berarti sebaliknya.
“Aku masih capek. Mabuk perjalanan. Kalau kamu tak bisa. Aku tak memaksa. Selamat malam. Hopefully, I could see you tomorrow.”
Serasa mau pecah kepalaku. Tak sanggup aku menerima kenyataan dipermainkan oleh kekasih yang aku anggap setia. Dia tak ada bedanya dengan leluhurnya yang suka ingkar ketika berniaga dengan penduduk nusantara yang baru belajar berdagang. Jendela kamar ku biarkan terbuka agar aku bisa melihat bintang gemintang di langit. Aku melihatnya. Tapi semua menertawakanku. Tak sedikitpun bintang-bintang itu berempati. Seoleh mereka mau mengajariku menerima hukum romantika: bersiaplah untuk menderita jika hendak menyinta.
“Aku akan kesana! Tunggu ya kakakku yang ganteng.”
Tersungging senyuman di sudut bibirku. Tanda kemenangan. Aku mengejek diriku yang setengah. Dia tampak bersedih setelah ditipu. Sementara diriku yang setengah terus bersikap positif. Dia memang satu prinsip: Kalau satu pintu tertutup maka pintu lainnya akan terbuka lebar. Untuk apa menangis ditingalkan seorang gadis, sementara gadis lain tergila-gila menunggu untuk dinikmati.
“Aku sudah di depan.”
Dengan langkah kemenangan aku menuju depan rumah kosku. Menjemput gadis yang siap berkorban apa saja untuk mendapatkanku. Gadis yang matipun rela asal mendapat perhatian dan kasih sayang.
Aku terkejut. Tak percaya apa yang kulihat. Gadis lugu yang kutunggu mengenakkan kain penutup kepala. Bukan kain biasa. Dia mengenakkan kain untuk melindungi kesucian. Kain yang kontras dengan keinginan liarku saat ini. Tapi, apa boleh buat. Biarlah semua mengalir seperti air.
“Ayo…kita duduk saja di sini. Kita duduki anak tangga itu sambil memandangi langit yang penuh bintang. Bagaimana kabarmu. Kamu lain sekarang. Tiga bulan banyak merubah lingkungan di sini. Termasuk kamu. Termasuk lainnya yang sebenarnya tak aku inginkan berubah.”
Gadis lugu hanya diam. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kerudung putihnya. Kini dia menjadi pendiam. Berbeda dengan komunikasi via sms.
“Kamu mau menjadi pacarku?”
Desi tak bergerak. Kata-kata yang tak diharap tiba-tiba muncrat keluar dari mulut gombal lelaki yang baru saja menjadi korban keberingasan gadis Tionghoa. Aku tak membutuhkan jawaban. Kalimat itu sudah cukup menjadi tiket agar aku bisa berbuat apa saja dengan dia. Demikian pikiran pongah liarku. Seiring malam semakin dingin karena kian larut kurapatkan badanku ke tubuh Desi. Awalnya dia tampak canggung. Apalagi aku berusaha menciumnya dengan membabibuta. Dia berusaha menghindar. Saat bibirku melumat bibir miliknya, kami seperti tersengat listrik. Bergantian tubuh kami saling menindih di atas lantai berubin putih. Baru saja diajari tapi dia cepat menjadi mahir.
“Kakak sudah biasa ya melakukan ini dengan gadis lain.”
Kesibukkanku mengerayanginya tak sanggup dihentikan dengan kalimat itu. Malahan semakin terpacu untuk mencapai puncak paling tinggi. Kami lepas kendali. Pertahanan Desi bobol menjelang subuh.

***
Hari-hari selanjutnya aku lewati tanpa Desi. Dia telah menjadi gadis di urutan di atas sepuluh.  Dia adalah gadis pertama yang menerima proyek balas dendamku yang seharusnya tidak perlu. Sangatlah tidak adil bila Desi dan gadis lainnya yang menjadi korban. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini aku sudah dengan Windy. Gadis yang akan menjadi korban urutan ke empat belas.
Yang berbekas dari sekian banyak korban itu hanyalah Desi. Dia satu-satunya yang masih suci yang sia-siakan. Kami putus di saat cinta-cintanya sedang bersemi untuk pertama kali. Dia berharap kami menjalin cinta hingga ke pelaminan. Dia telah merencanakan segala hal yang baik untuk kami. Termasuk acara HUTku. Pernah sewaktu saya sakit, dia menjagaku berhari-hari. Dia berbuat laiknya seorang istri yang rela mati demi suami. Hubungan kami berakhir saat umurnya mencapai tiga hari. Sempat dia mengacam untuk bunuh diri ketika mendengar aku tak mau lagi. Karena rasa cintanya yang sucilah, dia akhirnya merelakanku menjauh darinya. Waktu itu aku begitu gagah. Tampan dan menjadi sasaran kekaguman orang-orang. Kini, setelah lulus kuliah. Aku bukan lagi apa-apa. Pria yang tak punya apa-apa yang tinggal di desa. Desi kini telah menjadi seorang pramugari. Dia meraih apa yang selalu diimpikannya. Berulang-ulang dia memberitahuku. Tapi aku tak sedikit memperhatikan. Setiap kali pesawat melewati desaku, aku menunduk malu. Malu, jangan-jangan Desi sedang melihatku dari atas. Malu karena aku kini lusuh. Setiap hari menyalahkan diri sendiri. Bagaimana aku sudah begitu sangat dungu?

Sebuah Cerita Pendek: Take For Granted


Take For Granted
Sebuah cerpen
Oleh Iswan Sual
Sudah empat hari Lebing tinggal di sebuah pulau bernama Marore. Pulau ini adalah pulau terluar utara Indonesia yang merupakan bagian dari Kabupaten Sangihe. Dekat ke kota General Santos daripada kota Tahuna. Apalagi ke Manado. Waktu tempuh Marore ke Manado 18 jam. Sedangkan Marore ke General Santos hanya kurang lebih dua sampai 3 jam. Hari demi hari dilewatinya tanpa ada masalah yang serius. Padahal, sewaktu masih belum berada di lokasi tugasnya itu dia telah disuguhi banyak informasi yang sebenarnya punya potensi untuk membuatnya kalah sebelum berperang. Kata mereka, tak ada sinyal untuk ponsellah, listrik hanya malam, air susah didapat, dan lain-lain. Namun, bukan Lebing namanya jika dia harus menyerah hanya karena diberi informasi seperti itu. Dia cenderung berpikir objektif. Dalam hatinya dia selalu berkata, “Segala sesuatu punya plus dan minusnya.” Bagai sebuah paham Taoisme. Ada Yin dan ada juga Yang. Kalau bilang takut atau khawatir, secara manusia, pasti ada. Namun, buku yang berjudul The Secret rupanya banyak memberinya kekuatan untuk tidak selalu berburuk sangka. Melainkan berpikir positif demi hasil yang positif pula.
Kecuali udara yang super duper panas, semua mengenai Marore disukai Lebing. Kemarin, gara-gara tak bisa tidur di kamar, dia memutuskan berjalan-jalan di tepi pantai berpasir putih. Dia bercakap-cakap dengan penduduk setempat yang ramah-ramah. Lagipula udaranya yang belum terkontaminasi oleh polusi. Di sini tak ada mobil. Sepeda motorpun masih satu dua. Hanya butuh 40 menit untuk bisa mengelilingi luas desa.
***
Tadi pagi setelah sarapan kira-kira jam sembilan dia mulai berjalan keluar dari rumah singgahnya. Sesuai rencana yang dia buat semalam, dia akan ke kantor camat, puskesmas dan sekolah-sekolah untuk meminta data-data. Sedari satu langkah telah tersungging senyum di bibirnya. Dengan begitu seluruh saraf di tubuh akan ikut tercipta aura riang. Jalan setapak selebar dua meter disusurinya. Daun pepohon kelapa, pepaya bergelayut menggapai kepalanya. Samping kiri dan kanan terdapat rawa. Burung weris binatang-binatang air nampak malu-malu berkeriapan kembali ke kubangan. Bahkan rengekkan babi-babi hitam yang baru beranak tertambat. Bunyi-bunyi burung kecil nan nyaring dan lucu turut menambah suasana syahdu mengiringi langkah kaki Lebing ke kantor camat.
Di kantor camat yang dibangun di atas rawa itu lengang.
“Slamat pagi Pak.”
“Oh selamat pagi. Silahkan duduk, De. Ada yang mungkin bisa dibantu?” sambut bapak berambut klimis berperawakan seperti Adji Massaid. Tubuhnya tegap seperti pejuang-pejuang Palestina tanpa senjata. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab mereka dengan sabar dan jujur. Ada juga seorang gadis tenaga honorer yang membantu. Namanya Yethlin Mahmud. Gadis yang menarik. Sewaktu memperkenalkan diri, dengan panjang lebar dia menjelaskan bahwa sebenarnya Opanya adalah orang Tidore Tahuna. Seorang muslim. Namun kemudian anaknya yang ke Marore berpindah menjadi Kristen. Gadis itu terlihat begitu cantik ketika tubuhnya dibalut baju yang resmi. Sepatu berhak tinggi begitu pas di kakinya. Walaupun gadis desa, ketika mengenakkan outfit yang modern, dia nampak seperti gadis kota yang maju pandangannya.
Dari situ selanjutnya aku berpindah ke kantor puskesmas. Tenaga medis melayaniku dengan baik. Tiga orang menjawab dengan sabar setiap pertanyaan yang terlontar. Umur mereka yang tak terlalu jauh dari ku membuat suasana sedikit lebih mencair. Aku disuguhkan es mangga segelas besar. Sudah empat hari aku di sini, dan di tempat itulah aku pertama kalinya dilayani dengan minuman sewaktu bertamu. Tak lama juga aku di tempat itu.
Selanjutnya aku menuju Lindongan tiga. Orang di sini menyebut dusun atau jaga sebagai Lindongan. Seperti yang umumnya digunakan di kampung-kampung Minahasa. Jadi setiap daerah punya penamaanya sendiri. Ini adalah wujud otonomisasi daerah. Tapi sayangnya, di kampung-kampung Minahasa hampir tak ada yang disesuaikan. Seharusnya desa disebut Ro’ong. Kecamatan disebut Pakasa’an, dan Kabupaten dinamakan Walak dan Propinsi disebut Wanua.
Di Lindongan 3 itu terdapat dua sekolah. SMP dan SMA. Kurang lebih 900 meter dari pusat kampong Marore. Tujuanku hanya SMP. Terik yang menggigit aku acuhkan karena keelokkan pantai pasir putih yang dibatasi jalan setapak berdinding. Mirip sekali tembok Cina. Saat langkah demi langkah menapak serasa aku berada di tembok Cina yang dibangun dengan mengorbankan ribuan orang dan dalam waktu bertahun. Bedanya tembok yang aku jejaki dibuat dengan kualitas rendah. Banyak yang telah retak dan berlubang. Asal jadi! Padahal dana-dana bantuan yang dikhususkan untuk daerah perbatasan begitu banyak demi kesejahteraan rakyatnya sendiri. Yang mengerjakan adalah orang kampong. Masih juga dibuat dengan mutu yang rendah. Dua guru menyambut saya dengan gembira. Wakil kepala sekolah begitu ramah. Sewaktu masih berbincang tiba-tiba hujan mengguyur. Namun tak lama berselang. Aku mohon pamit saat tinggal rintik-rintik kecil tak berarti. i
Saat pulang aku mencoba jalan alternatif lain supaya semakin mengenal wilayah dimana aku akan tinggal entah sampai kapan. Senyuman terus mengumbar di bibirku saat aku sudah berada lagi di tepi pantai. Kembali melewati tembok Cina. Jauh di depan terpampang dua pulau yang menonjol, Kemboleng dan Kawio. Di sebelah kiri, secara samar terpajang juga sebuah pulau tak berpenghuni yang bernama Mamanuk. Seirama kaki dan tangan bergerak, aku menyadari ada sesuatu yang kurang. Ya Tuhan! Aku lupa sesuatu. Map berisi formulir tertinggal di meja ruangan guru. Untung aku dengan sekolah hanya terbentang jarak kurang lebih 200 meter. Tak ada pilihan. Aku harus segera kembali. Mumpung jam sekolah belum berakhir. Lantai santai kini berubah menjadi langkah tergesa. Tak sampai dua menit aku telah tiba di sekolah dan mengambil map berwarna  biru yang tergeletak tepat di sisi tumpukan berkas dan buku-buku pegangan guru. Aku keluar dari ruangan guru. Melewati lapangan basket. Saat melewati SMA yang berdampingan dengan SMP terdengar tepuk tangan dan siutan yang disertai ledakkan canda tawa. Aku melarang kepalaku menoleh. Tepuk tangan, siutan terus saja.
“Anak-anak ini tidak diajarkan tatakrama! Masakan, aku seorang tamu diperlakukan seperti ini?” kecamku dalam hati. Dengan terpaksa aku menoleh ke arah darimana tepuk tangan dan siuatan itu. Sewaktu leher berputar 90 derajat yang kulihat bukanlah murid-murid yang nakal melainkan guru atau mungkin pegawai berseragam batik. Tampak begitu jelas bahwa mereka adalah orang-orang dewasa. Benakku penuh tanda tanya, “Kok bisa ya?”
Kembali lagi aku menyusuri jalan yang sama. Rasa kesal dilecehkan terobat oleh panorama pantai dan laut. Begitu biru airnya. Riak-riak berbuih turut menenangkan suasana hati. Aku mulai hanyut oleh belaian angin sepoi-sepoi. Di belakangku terdengar raungan sepeda motor. Begitu aku menoleh, kulihat dua sepeda motor. Ada tiga penumpangnya. Semuanya berseragam persis seragam yang digunakan pegawai yang iseng padaku. Cepat sekali sepada motor melaju. Dan tiba-tiba…
“Kak!” seorang gadis berkulit putih berteriak padaku sambil menunjukkan jarinya. Ya aku kenal perempuan itu. Dia adik angkatanku sewaktu masih kuliah. Salah satu yang pernah menjadi sasaran perpeloncoan. Sayangnya aku lupa namanya. Gadis blasteran bertubuh semampai. Tapi…dia masih gadis atau sudah menikah ya? Kurang tahu. Dia tak begitu kuperhatikan sewaktu di kampus. Memang sewaktu kuliah dulu mataku tak pernah beralih bila dia lewat di depan kelasku. Tapi, dia tak pernah dekat denganku. Barangkali, karena faktor perbedaan jurusan dan tak aktif di organisasi. Waktu itu aku berpikir tak ada pentingnya dekat dengan dia. Tambah lagi minat kami tak sama. Dia bukan tipe mahasiswa yang suka berorganisasi di kampus.
Gadis…perempuan itu lalu begitu saja. Kata “Kak” yang diucapkan paling tidak aku balas dengan “Hai”. Sepeda motor buru-buru membawa. Akupun tak berharap banyak. Aku meneruskan perjalanan sembari sesekali mengambil gambar pemandangan dengan kamera ponselku. Sesampai di tempat tinggalku, kulempar tas di atas kasur diiringi desahan panjang sebagai bentuk ekspresi manusia yang sudah kelelahan, kepanasan dan kelaparan. Tanpa ganti baju aku langsung menuju ke warung untuk membeli dua butir telur ayam.
“Kak!” dengan gerak reflek kepalaku mencari sumber suara.
Ya ampun! Gadis…perempuan di atas sepeda motor yang menegurku ternyata tinggal di depan tempat tinggalku. Kami hanya dipisahkan oleh tanah berjarak kurang dari sepuluh langkah. Dia datang mendekat. Seragam batik kecoklatannya tak lagi melekat di tubuhnya. Dia kini dibalut pakaian “Baby Doll”. Kegadisannya begitu kentara. Bentuk badannya masih menyiratkan bahwa dia masih gadis. Kami bicara banyak. Sangat ramah. Setelah pertemuan itu, dia sering ke tempat tinggalku. Membawakan makanan dan perhatian. Ya Tuhan! Orang yang tak begitu aku kenal dan tak dekat bertemu denganku di pulau terpencil. Dia begitu baik padaku. Aku sedikit merasa berdosa. Dulu aku berkawan demi sebuah manfaat dan keuntungan, take for granted. Justru orang-orang yang tak sedikitpun kita beri perhatian bisa menjadi sahabat atau malaikat di saat kita susah atau kesepian.




Sebuah Cerpen: Kelabu


KELABU DI KAMPUNG BARU
Oleh Iswan Sual, S.S

Dalam keadaan tergesah-gesah kuparkir sepeda motorku. Rambut masih basah dan kocar kacir. Ini karena aku bangun nyaris kesiangan. Di bawah pohon mangga yang rindang sepeda motorku ku biarkan berdiri dengan dua kaki. Para siswa telah berbaris rapih. Tiga orang siswa perempuan yang cantik sudah berada di depan siap untuk memimpin senam caka-caka. Senam yang berasal dari Palu ini sedang digandrungi dimana-mana. Tak terkecuali di desaku yang masih tergolong udik. Ketenaran tarian poco-poco yang asli dari Manado kini terbenam. Sudah tergantikan senam atau tarian yang sedikit erotis ini. Rasanya tidak patut senam dengan dominasi gerakan pantat ini dibawa ke dalam lingkungan anak-anak yang masih begitu polos. Dengan sedikit malu-malu ku langkahkan kaki menuju kantor kepala sekolah. Di situlah kami para  guru mengisi daftar hadir.
“ser, ada rumah yang terbakar.” Seorang siswa sedikit berteriak sambil menunjuk ke arah kampung seberang yang tak jauh dari desa kami. Aku tak mengubris.  Aku harus cepat-cepat supaya tidak kepergok kepala sekolah karena datang terlambat 10 menit.
Akhir-akhir ini aku memang sering tidur setelah ayam berkokok di tengah malam. Banyak guru yang memintaku mengerjakan yang seharusnya mereka kerjakan. Guru-guru yang sedang kuliah terpaksa meminta bantuanku karena mereka tak sanggup mengerjakan tugas-tugas dosen. Sungguh ironis.
“Ser, coba lihat. Ada yang kebakaran,” Siswa bernama Kifli itu mendesak. Masih tak kupercaya. Kadang-kadang siswa di sekolah ada yang suka mencari perhatian dengan  cara seperti itu. Meskipun kurang percaya, kupikir tak ada salahnya melihat apa yang ditunjuk oleh si Kifli.
Aku urungkan niat mengisi daftar hadir. Kepala sekolah rupanya tak ada. Tak ada hartop hijaunya. Pasti dia sakit.
“Ser, ada rumah terbakar.”
Kulihat kearah siswa yang terus menganggu itu. Senam baru saja dimulai. Mataku terbelalak keheranan sebagian siswa melihat ke arah yang ditunjuk. Sejurus kemudian pandanganku membeo pandangan mereka.
Asap mengepul dan menjulang tinggi ke langit. Asap putih kehitaman. Tinggi jauh ke atas. Mendadak aku terpikir rumah kami. Asap itu nampak berasal dari area Aer Tondei. Ya Aer Tondei. Di kompleks situlah rumah kami berada. Tak sampai hitungan ketiga aku sudah di atas sepeda motor lagi. Segera kuhidupkan dan dengan cepat menyusuri jalan bebantuan dan berkerikil yang menurun. Tak sempat aku pamitan. Tas yang berat tak sempat ku letakan di meja guru. Ku teringat rumahku. Banyak barang berharga. Antara lain buku-buku, sertifikat, ijasa-ijasahku.
Di perbatasan kampung Tondei dan Tondei Satu, tepatnya di rumah hukum tua, aku hentikan sepeda motorku sejenak.
“Vian! Vian! Sepertinya ada rumah yang terbakar,” kataku sambil ngos-ngosan. Padahal aku berlari dengan sepeda motor.
“Tidak. Itu bukan rumah. Itu…ada seorang kakek yang sementara membakar rerumputan mungkin. Dia berencana akan menamami lahan itu dengan berbagai jenis umbi. Kemarin aku sempat bicara dengannya,” Jawab pria bujangan dengan tenang.
Orang di sekitar rumah hukum tua yang kebetulan berkerumun terlihat dilayani penjual sayur dan tahu serta nampak tenang-tenang saja. Tapi aku kurang yakin dengan ketenangan mereka. Ketenangan itu mungkin disebabkan ketidaktahuan.
Aku tancap gassepeda motorku melewati jalan berlubang. Badan sepeda motor bersuara ribut. Tapi tak kupedulikan. Gas sepeda motor terus ku pacu. Saat mencapai di depan SD Inpres, terlihat asap sangat tinggi. Tapi bukan dari rumahku. Sekarang terlihat asap itu bersumber dari gereja. Gereja! Jangan! Gereja itu belum selesai. Kenapa terbakar? Sekarang sepeda motor melewati rumah. Nampak kerumunan orang memenuhi jalan. Juga di depan rumahku. Tapi tak terjadi sesuatu buruk dengan rumahku.  Dari kejauhan terlihat rombongan sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
“Kebakaran! Kebakaran! Rumah tante Unggu terbakar!” pengemudi berteriak panik. Dengan kostum rapih aku melesat menuju ke gereja. Asal asap kini terlihat berasal dari rumah kostor yang berdiri di belakang gedung gereja. Beberapa sepeda membuntuti dari belakang. Kami terlihat dan terdengar seperti sedang balapan. Raungan sepeda motor memperburuk suasana. Orang-orang di tepi jalan terlihat semakin panik. Ibu-ibu dan gadis-gadis perempuan berteriak historis. Ada yang jatuh pingsan. Tampak begitu menegangkan. Saat tiba di gereja, kelihatan api membumbung tinggi dari sebuah rumah di kampung baru. Jalan rusak berat dengan nekad bersama-sama kami tempuh.
Sepeda motor setengah tuaku ku parkir saja sembarangan di badan jalan. orang-orang lelaki dewasa berlarian mondar-mandir mengambil air dari selokan. Air yang sangat sedikit tidak sanggup memadam api. Saat disiram api kian bertamba besar. Para wanita berteriak-teriak saat si bengis merah melahap rumah kayu berkamar 4. Rumah itu masih baru. Belum lama ditahbiskan oleh pendeta. Semua dinding lenyap. Tiang-tiang satu persatu tumbang. Para orang dewasa berusaha merobohkan tapi mereka menemui kesukaran. Kabel listrik terputus dan memancar-ancarkan api.
Dari kejauhan aku melihat sepasang suami istri berteriak-teriak penuh tangis berusaha masuk dalam rumah yang sedang lenyap. Beberapa orang beberapa kali mencoba. Usaha apapun tak dapat menghentikan api. Satu-satunya cara adalah menunggu sampai si bengis merah kenyang. Dengan begitu perlahan-lahan ia akan menghilang. Mengetahui itu, para lelaki dewasa menyerah. Semua terduduk lemas menjadi saksi keberingasan si bengis merah.
Kini bengis merah telah pergi namun jejak panas masih terasa. Walaupun begitu para lelaki dewasa berdiri dan kembali menjinjing ember. Disiram mereka sisa-sisa api. Satu dua orang dengan berani menyusuri rumah yang tercabik-cabik. Bagian atas yang jatuh membuat tumpukan di lantai. Alas kaki beberapa pria dewasa itu mencair oleh bara api. Tapi mereka tetap nekad mencari sesuatu. Aku bingung. Apa yang mereka cari? Tidak sebaiknya pencarian dilakukan setelah api betul-betul sudah padam. Pasti ada sesuatu yang berharga.
Kini telah ada 5 pria dewasa di dalam. Dengan menggunakan kayu panjang sebesar lengan mereka mengorek-ngorek tumpukan. Tiba-tiba seorang pria…
“Oh Tuhan. Oh Tuhan…kenapa kau biarkan ini terjadi. Dia masih kecil!”
Orang banyak sontak berkerumun melihat apa yang ditunjuk si pria berperawakan tinggi.
Seorang pria, belakangan ku tahu dia seorang mantan kriminal, mengangkat seonggok tubuh.
“Oh Tuhan! Oh Tuhan! Tuhaaaaaaaaan…!” kerumunan berseru dengan keras seakan-akan mempersalahkan Tuhan karena menimpahi mereka dengan musibah yang begitu berat.
Tubuh kecil berwarna hitam karena hamgus diangkat dan dipindahtangankan. Tercium bau daging pangang. Perut anak kecil itu telah pecah. Isi perut terburai. rupa tumbuh tampak begitu buruk. Jari tangan dan kaki telah tiada habis ditelan si bengis. Teganya si bengis. Tak puas dengan rumah, dia juga melahap sebagian kanak-kanak itu.
“Kain… kain. “ kata pria yang menggotong tubuh terbakar.
Seorang pemuda membuka pakaiannya dan merelakannya menjadi penutup mayat si anak. Brian tewas mengenaskan sewaktu dia bersembunyi di bawah ranjang. Kata neneknya, dialah yang memberitahu si nenek tentang api pertama kali. Sang nenek yang telah lumpuh buru-buru di selamatkan ayahnya. Sewaktu ayahnya hendak kembali ke kamar, amukan api sedang besar-besarnya. Dia berharap anak itu telah menyelamatkan dirinya. Tapi, kini telah gamblang. Brian memang berusaha menyelamatkan diri. Hanya saja di tempat yang salah.
Tangisan kerumunan menggemuruh sampai ke langit.
“Tuhan…dia hanya anak kecil. Kenapa dia? Kenapa…….?”
Saat ku lihat jam tangan, aku insaf akan tugasku. Seharusnya aku di dalam kelas  di depan siswa. Tak patut aku berada di situ. Aku melangkah keluar melewati tumpukan manusia berdesak-desakan. Sepeda motorku kini telah berada di tengah-tengah kerumunan sepeda motor lain. Satu persatu sepeda motor itu ku pinggirkan.
Ku putuskan untuk segera kembali ke sekolah tanpa kebut-kebutan. Pikiran masih terganggu oleh kejadian na’as yang menimpa keluarga yang terhitung seumur jagung. Brian baru berumur 4 tahun. Kakaknya, yang sulung, berumur 9 tahun. Pasti sangat berat jika aku yang mengalami pergumulan itu.
Begitu sampai di sekolah aku ke ruang guru sebentar. Betapa pedas kekesalan mereka padaku karena keluar begitu saja dari sekolah pasti akan segera pudar saat ku beritahu tentang kebakaran disertai foto dan video yang sempat ku ambil saat kebakaran masih sumgringahnya membabat setiap bagian rumah yang cantik itu. Untung, beberapa bulan lalu, aku sempat mengabadikan rumah itu dalam Hpku. Aku pernah memiliki impian punya rumah sebagus itu. Rumah itu dibuat sendiri oleh sang pemilik. Ayah Brian. Namanya Eben.
Seperti yang aku duga. Waktu kaki satu langkah di ruang guru. Seorang guru telah bertanya. Ku beritahu mereka mengenai peristiwa yang baru terjadi. Kaget mereka bukan main. Walau hanya melihat dari video mereka tak bedanya seperti saksi mata. Para guru berteriak dan membuahkan kegaduhan. Beberapa siswa dari kelas sebelah berhamburan ikut serta bercambur baur dengan para guru karena penasaran. Karena garang oleh kelakuan murid yang sudah tak sopan kata-kata senonoh keluar meluncur.
“Pergi sana. Binatang kalian!”
Para murid hanya sedikit menjauh. Masih berharap ada sesuatu yang memuaskan rasa keingintahuan mereka. Walaupun tak melihatnya videonya, mereka tinggal mendekat, berharap mendapat informasi dengan mendengarkan indra pendengar. Akupun menjelaskan. Para siswa terkejut sedih. Beberapa dari mereka masih saudara dekat keluarga korban amukan si bengis merah.
“Jesika, Indri dan Fike, kalian boleh pulang skarang. Tengoklah adik kalian.”
Mereka langsung bubar dan kembali kelas untuk mengambil tas. Sudah itu mereka pulang dalam keadaan muram.
“Musibah itu memang cocok untuk mereka,” kata seorang guru perempuan berambut pendek. Dia memang pernah cekcok dengan keluarga korban lahapan api.
“Kenapa ibu berkata begitu. Sungguh tak baik berkata seperti itu.”
“Memang betul. Mereka sudah pantas ditegur. Mereka jahat pada orang tua, anti gereja dan tak menghormati pemuka agama. Kami sering dicemooh mereka. Tambah lagi, mereka kurang sosial. Tidak mau bermasyarakat. Mentang-mentang orang berada.”
Tak tahu apa yang dikata itu benar atau tidak. Tapi sungguh sangat tidak manusia jika ada seorang menginjak orang lain yang sedang jatuh terperosok dalam lubang. Sudah jatuh dari pohon tertimpah buah durian pula. Sungguh malang.
Aku sendiri, bukan baru sekali saja mendengar rumor itu. Memang si bapak adalah orang yang rajin bekerja. Ekonomi mereka cepat berkembang berkat kepiawaiannya sebagai tukang kayu. Dia sanggup membangun rumah sendiri tanpa harus bekerja selama 20 tahun. Ini membuat dia congkak dan merasa tak perlu bantuan orang lain untuk bisa hidup. Tapi itu cerita yang sudah lewat. Sekarang tidaklah begitu. Sudah kehilangan rumah. Perkakas pertukangan juga telah hilang tak berbekas. Anak lelaki yang paling tampanpun ikut menjadi mangsa si bengismerah. Walaupun begitu umumnya masyarakat bersimpati. Pemerintah dan gereja bekerjasama  mengumpulkan uang dan material rumah:semen, kayu, batu, bata, pasir, tras. Belum selesai pemerintah mengumumkan lewat pengeras suara, semua material yang diminta serta uang berdatangan. Melebihi yang diharapkan. Yang tak sanggup memberi uang atau bahan, mereka menyumbangkan tenaga untuk membangun rumah baru. Tak sampai sebulan rumah permanen 3 kamar telah berdiri. Rumah kayu telah digantikan oleh rumah beton. Gara-gara itu sekeluargapun sadar dan secara perlahan mulai bermasyarakat dan bergereja.